Home / News / SEJARAH SINGKAT PESANTREN GELAR KOTA CIANJUR.
SEJARAH SINGKAT  PESANTREN GELAR KOTA CIANJUR.

SEJARAH SINGKAT PESANTREN GELAR KOTA CIANJUR.

Suaraindonesianews – Cianjur,  Pondok pesantren GELAR berdiri pada tahun 1932 M / H oleh Pengersa MAMA KH. AHMAD SYUBANI bin HUSNEN (Mama Gelar Pertama) beliau dari Kadu Pandak, Cianjur Selatan beliau, selain berpendidikan formal juga mondok di beberapa pesantren.

Diantaranya  pesantren Gentur, yang terletak di desa Gentur Warung Kondang yang pada waktu dipimpin dan diasuh oleh PANGERSA MAMA KH. AHMAD SATIBI (PANGERSA MAMA GENTUR)  selain itu pondok Pesantren Cibitung Bandung yang dipimpin dan diasuh oleh KH. Ilyas (MAMA Cibitung).

Beliau menikah dengan HJ. Aisyah Putri pertama dari MAMA KH. Ibrahim pimpinan dan pengasuh pondok pesantren Peuteuy Condong, dari pernikahannya beliau dikaruniai anak 6 putra-putri, 3. Dan pada akhirnya  beliau pulang ke rahmatullah pada hari Ahad jam 17.30 WIB pada tanggal 8 Romadhon 1395 H / 14 September 1975 M.

Kemudian  pondok pesantren GELAR dilanjutkan oleh putra pertamanya yang bernama KH. Zein Abdossomad (PANGERSA MAMA GELAR) MAMA GELAR lahir di Peteuy Condong Lebak,

Menurut pimpinan pondok pesantren Al,Inaabah Aang Zein ketika media mengunjungi pondok  rabu 01/03 beliau menyampaikan,

Demi mewujudkan dan melaksanakan cita-cita dan tugas para leluhurnya dalam  siar islam, Ia lebih mengedepankan ke  dzikir doa dan sholawat dalam menerapkan pendidikan keimanananya.

Selain itu dalam melaksanakan siar nya kemasyarakat dilakukan  secara persuasif demi mencapai ketenangan dan ketentraman jiwa umatnya. Menurutnya,  Ketika solawat dikumandangkan dilingkungan masyarakat sudah tentu ketentraman dan ketenangan jiwanya akan terjaga. Nah ajaran inilah yang selalu MAMA  Ajarkan kepada kami ujarnya.

Selain membentuk pola dakwah dan solawat yang disebut MAZHOLAT  ( majelis sholwat) yang didirikan pada tahun 1990. pesantren Al, Inaabah  turut pula  menjaga dan menghormati ajaran adat dan budaya khusunya  sunda.

Bahkan menurut Aang,   selain keagamaan yang ditanamakan,  budaya pun dapat membentuk perilaku masyarakat yang positif.Apa lagi kalau kita arahkan lebih kedalam pelaksanaan kongkritnya yakni ikut melaksanakan pemberdayaan masyarakat, sekaligus memupuk ajang silaturahmi,  jadi , didalam pondok kita bina dengan keagamaan namu ketika terjun dimayarakat kita wujudkan dalam solawat dan pemberdayaana masyarakat, ujar sambil tersenyum.

Disinggung tentang budaya. Aang Zein berpendapat bahwa agama dan budaya harus dilselaraskan atau diseimbangkan. demi menjaganya,  kita harus kembali pada  pesan para leluhur kita. Kita sifatnya mendidik mengarahkan membimbing. demi terciptanya ketenangan dan ketentraman hati.  Dengan  mengedepankan normatif agama.

Terlebih jaman sekarang ini budaya dikita sudah hapir terkikis oleh adat dan budaya luar dan kita harus kembali kepada sejarah dan jangan pernah bangga dengan budaya luar, karena Cianjur sendiri sudah punya ciri ” Tatar sunda kota santri “,  mari kita kembali . pungkas Aang Zein kepada wartawan. (Sep )

 

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top