Buletin dakwah Jum’at 27 Februari 2026/09 Ramadhan 1447 H.
Oleh: Hamma,S.Sy Penghulu KUA Bokat
BUOL, SUARA INDONESIA NEWS | Umur sering dipahami secara sederhana sebagai rentang waktu antara kelahiran dan kematian. Ia dihitung dengan angka, tahun, bulan, dan hari yang terus bergerak tanpa pernah berhenti. Namun jika direnungkan lebih dalam, umur sebenarnya bukan sekadar perjalanan biologis manusia. Umur adalah ruang waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk menjadi sesuatu yang lebih baik dari dirinya yang kemarin. Dengan kata lain, umur adalah kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan orang yang sangat memperhatikan panjangnya umur. Banyak orang berharap hidup lama, bahkan sangat lama. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar sebenarnya bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan apa yang dilakukan selama hidup itu berlangsung. Panjangnya usia tidak otomatis membuat hidup seseorang menjadi bermakna. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang usianya relatif singkat, tetapi meninggalkan pengaruh yang mendalam bagi kehidupan orang lain.
Karena itu, umur seharusnya dipahami sebagai amanah waktu. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari amanah tersebut. Ia tidak bisa diulang dan tidak bisa dipinjam kembali. Waktu yang telah lewat tidak pernah kembali, sementara waktu yang akan datang belum tentu kita miliki. Yang benar-benar ada hanyalah waktu yang sedang kita jalani saat ini. Di dalam waktu yang terbatas inilah manusia diberi kesempatan untuk membangun kualitas dirinya.
Dalam perspektif ini, bertambahnya umur seharusnya membawa manusia kepada kematangan batin. Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya semakin luas pula cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi masalah, lebih sabar menghadapi perbedaan, dan lebih tenang dalam menghadapi berbagai dinamika hidup. Umur yang bertambah seharusnya membuat hati menjadi lebih lapang dan pikiran menjadi lebih jernih.
Namun kenyataan tidak selalu demikian. Ada orang yang bertambah usia tetapi tidak bertambah kebijaksanaannya. Ia hanya menua secara biologis, tetapi tidak berkembang secara batin. Dalam keadaan seperti itu, umur hanya menjadi deretan angka yang terus bertambah tanpa menghadirkan kedalaman makna. Usia bertambah, tetapi kualitas diri tidak ikut bertumbuh.
Karena itu, setiap pertambahan umur seharusnya membawa manusia kepada tiga bentuk kematangan sekaligus. Pertama adalah kematangan spiritual. Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya semakin dalam pula kesadarannya tentang hubungan dengan Tuhan. Ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar perjalanan duniawi, tetapi juga perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi. Kesadaran ini membuat manusia lebih rendah hati dan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup.
Kedua adalah kematangan moral. Umur yang bertambah seharusnya membuat seseorang semakin mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik dalam kehidupan. Ia tidak lagi mudah terjebak dalam emosi sesaat atau kepentingan yang sempit. Sebaliknya, ia berusaha menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman dalam setiap keputusan yang diambil.
Ketiga adalah kematangan sosial. Manusia tidak hidup sendirian. Ia hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat. Karena itu, umur yang baik adalah umur yang memberi manfaat bagi kehidupan orang lain. Kehadiran seseorang seharusnya membawa kebaikan, bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Semakin lama seseorang hidup, semakin luas pula kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat baik kepada sesama.
Pada akhirnya, umur adalah perjalanan menuju sebuah akhir yang pasti. Setiap manusia akan sampai pada titik di mana waktu hidupnya berakhir. Ketika saat itu tiba, yang tersisa bukanlah jumlah tahun yang pernah dijalani, tetapi makna dari kehidupan yang telah diisi selama umur itu berlangsung. Yang dikenang oleh manusia bukanlah panjangnya usia seseorang, melainkan kebaikan yang pernah ia lakukan.
Dengan demikian, umur seharusnya tidak hanya dihitung, tetapi juga dihayati. Ia bukan sekadar angka yang bertambah setiap tahun, melainkan kesempatan yang terus berkurang untuk melakukan kebaikan. Setiap hari yang berlalu adalah pengingat bahwa waktu hidup manusia semakin mendekati batasnya.
Kesadaran seperti ini seharusnya membuat manusia menjalani hidup dengan lebih penuh makna. Ia berusaha menggunakan waktunya untuk hal-hal yang berguna, memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan, dan menebarkan manfaat bagi orang lain. Sebab pada akhirnya, nilai sejati dari umur manusia terletak pada seberapa banyak kebaikan yang berhasil ia tanamkan dalam perjalanan hidupnya. (ilham sopu)

















