DURI, SUARA INDONESIA NEWS | Metode pembelajaran vokasional membatik mulai diterapkan di SLB Aisyiyah wilayah Mandau dan Pinggir untuk menggali potensi anak berkebutuhan khusus. Pendekatan ini dikenalkan lewat Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Inklusif Berbasis Vokasional yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan.
Liza, guru SLB Aisyiyah, mengaku metode konvensional minim praktik sebelumnya membuat siswa cenderung pasif. “Kadang saya bertanya, apakah cara mengajar yang selama ini kami lakukan benar-benar sudah sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Liza, Jum’at (24/4/2026).
Lewat program tersebut, Liza mendapat pelatihan dan pendampingan untuk mengajar membatik secara adaptif. Mulai dari pengenalan motif sederhana, cara memegang canting, hingga pewarnaan, semua disesuaikan dengan kemampuan tiap siswa. Proses awal tidak mudah. Liza harus mendampingi intens, mengulang instruksi, dan menghadapi ketakutan siswa untuk mencoba.
Perlahan perubahan terlihat. Siswa yang semula hanya mengamati mulai berani terlibat. “Dari sekadar memegang canting hingga mampu menyelesaikan karya sederhana, setiap proses menjadi pencapaian yang berarti,” ujarnya.
Program ini tak hanya mengubah siswa. Liza menyebut dirinya bertransformasi dari pengajar menjadi fasilitator yang lebih adaptif dan empatik. Suasana kelas jadi lebih interaktif. Siswa diberi ruang mencoba dan berekspresi. “Yang paling mengharukan bukan hasil batiknya, tapi saat mereka mulai percaya bahwa mereka juga bisa,” ucap Liza.
PHR menyediakan alat dan bahan, pelatihan bagi guru, serta pendampingan metode berbasis praktik. Program ini disebut sebagai bentuk penguatan peran perempuan dalam pendidikan inklusif. Sejalan dengan semangat Hari Kartini, kisah Liza dinilai menjadi potret keberanian membuka jalan bagi anak berkebutuhan khusus agar lebih setara dan mandiri. (Mus)

















