
DUMAI, SUARA INDONESIA NEWS | Hamparan kebun nanas madu seluas 47 hektare milik Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagan Besar Jaya di Dumai menjadi tumpuan hidup 23 keluarga anggotanya. Selama ini mereka hanya bergantung pada penjualan buah segar ke tengkulak, dengan produktivitas rata-rata 1.000 kilogram per hektare. Rabu, (5/8/2026).
Ketergantungan itu membuat pendapatan sangat fluktuatif. Saat harga baik, petani bisa sedikit lega. Saat harga turun, ekonomi keluarga ikut terpukul.
“Kami bekerja keras setiap hari, tapi selalu dibayangi ketidakpastian harga,” ujar Ketua KTH Bagan Besar Jaya, Izar Johanes Silaban (50)
Dari total lahan 47 hektare, sekitar 8 hektare telah memasuki masa produktif dan dipanen. Keterbatasan pengetahuan mengolah hasil panen serta belum adanya usaha alternatif membuat kelompok terjebak dalam siklus tanam-panen-jual dengan harga ditentukan pasar.
Diversifikasi Produk Lewat Pendampingan PHR
Titik balik datang melalui Program Perhutanan Sosial yang difasilitasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Selain dukungan sarana dan prasarana, program ini memberikan pelatihan diversifikasi produk olahan nanas kepada anggota KTH.
PHR juga memfasilitasi mesin pemarut nanas, mesin pengaduk selai, kompor, peralatan pengemasan, perlengkapan produksi, hingga bahan habis pakai.
Melalui pendampingan itu, petani mulai mengubah cara pandang. Nanas tidak lagi hanya dijual dalam bentuk buah segar, tetapi diolah menjadi selai nanas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Proses adaptasi tidak mudah. Tangan-tangan yang terbiasa memegang cangkul kini belajar memilih buah dengan tingkat kematangan tepat, memahami proses produksi pangan, hingga mengoperasikan mesin pengolah.
Libatkan Keluarga, Tekan Ketergantungan pada Tengkulak
Transformasi ini membawa dampak sosial. Istri anggota kelompok kini turut terlibat dalam proses produksi, mulai dari mengupas buah, mengolah adonan selai, mengemas, hingga menjaga kualitas produk. Kebun yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas kini berkembang menjadi ruang kolaborasi keluarga.
Diversifikasi ini diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan rata-rata anggota sebesar Rp1.000.000 per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan buah segar.
“Dulu, setiap melihat nanas kami dijual kepada tengkulak dengan harga murah, hati kami selalu berat. Kini, ketika hasil kebun kami dapat kami olah sendiri menjadi selai, rasanya sangat mengharukan,” kata Izar.
“Bagi orang lain, selai ini mungkin hanya sebuah produk. Namun bagi kami, setiap kemasannya adalah bukti bahwa hasil kebun kami memiliki nilai lebih dan mampu menghadirkan harapan baru bagi keluarga kami,” tambahnya.
Melalui pengolahan selai nanas, KTH Bagan Besar Jaya berharap dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian harga pasar. (Mus)














