Bedah Buku “Perawan” Masyarakat Berani Bersuara Lawan Kekerasan Seksual

Bedah Buku “Perawan” Masyarakat Berani Bersuara Lawan Kekerasan Seksual

0
SHARE

TEGAL, SUARA INDONESIA NEWS |  Workshop dan Bedah Buku “Perawan (Antara Kisah dan Realita)”, yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tegal di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tegal, Minggu (27/9/2026).Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, menjadi pemateri.

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai perlindungan dan pemberdayaan perempuan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual yang masih terjadi di lingkungan sekitar.

Selain Tazkiyyatul, kegiatan juga menghadirkan Sekretaris Komisi III DPRD Kota Tegal, Nur Fitriani, serta penulis buku Perawan (Antara Kisah dan Realita), Uswatun Khasanah.

Dalam paparannya, Tazkiyyatul menyampaikan bahwa forum edukasi seperti workshop dan bedah buku perlu terus diperbanyak. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak harus selalu digelar dalam skala besar, tetapi yang terpenting dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Forum seperti ini harus diperbanyak dan tidak perlu besar. Yang penting konsisten dan tetap menyala. Anak muda di Kota Tegal jangan redup dalam menyuarakan kekerasan seksual,” ujar Tazkiyyatul.

Ia menyampaikan, salah satu tantangan dalam penanganan kekerasan seksual adalah pelaku yang sering kali berasal dari lingkungan terdekat korban. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar masyarakat memiliki keberanian untuk bersuara dan mencari bantuan ketika mengetahui atau mengalami kekerasan seksual.

Tazkiyyatul menambahkan, Pemerintah Kota Tegal memiliki perhatian terhadap penanganan kasus kekerasan seksual, khususnya pada kepemimpinan saat ini. Untuk itu, dukungan masyarakat dan berbagai elemen, termasuk kalangan mahasiswa, sangat dibutuhkan dalam mewujudkan Kota Tegal sebagai kota ramah anak.

“Kami membutuhkan support dari masyarakat dan teman-teman GMNI karena kami sangat ingin Kota Tegal menjadi kota ramah anak. Kita bantu edukasi masyarakat untuk berani bersuara,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Fitriani mengungkapkan bahwa hingga September 2026 tercatat 62 kasus kekerasan di Kota Tegal. Dari jumlah tersebut, 45 kasus di antaranya melibatkan anak.

Menurut Fitriani, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang terjadi di masyarakat. Sebagian besar korban memilih diam dan tidak melaporkan kasus yang dialaminya karena rasa malu maupun ketergantungan ekonomi terhadap pelaku.

“Yang melapor sebagian kecil. Kebanyakan memilih diam karena malu atau bergantung secara ekonomi,” ujar Fitriani.

Ia juga menyampaikan data bahwa 15,8 persen kekerasan oleh pasangan terjadi tanpa alasan apa pun. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya edukasi dan upaya pencegahan kekerasan, khususnya dalam lingkungan keluarga dan relasi personal.

“Kekerasan bukan salah korban, bukan takdir, dan bukan ajaran agama. Kekerasan bisa dicegah dan tidak harus menghadapi sendirian,” ujarnya.

Sementara itu, Uswatun Khasanah, penulis buku Perawan (Antara Kisah dan Realita), mengatakan buku tersebut berupaya membongkar mitos mengenai keperawanan yang selama ini kerap dijadikan sebagai ukuran nilai seorang perempuan.

Menurutnya, edukasi mengenai fenomena kekerasan seksual perlu terus diberikan kepada masyarakat. Hal tersebut penting karena lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi perempuan dan anak, termasuk rumah, dalam sejumlah kasus justru dapat menjadi sumber ketakutan.

Ketua GMNI Kota Tegal, M. Lutfi Azkiya, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk upaya GMNI Kota Tegal untuk mendorong perhatian dan penanganan terhadap kasus pelecehan dan kekerasan seksual.

“Kami sering melihat di sekitar kita, baik secara verbal maupun fisik. Kami mendorong melalui bedah buku Perawan (Antara Kisah dan Realita) ini agar persoalan kekerasan seksual yang tertuang dalam buku dapat menjadi bahan diskusi bersama,” ujarnya.

Melalui workshop dan bedah buku tersebut, GMNI berharap ruang dialog mengenai perlindungan dan pemberdayaan perempuan dapat terus diperluas. Sinergi antara pemerintah, legislatif, mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pihak juga diharapkan semakin kuat dalam membangun lingkungan yang aman serta mendukung terwujudnya Kota Tegal yang ramah perempuan dan ramah anak.” Ucapnya. (Zaen)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY