SERANG, SUARA INDONESIA NEWS | Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menandai enam tahun perjalanannya dengan refleksi mendalam mengenai peran pers di tengah badai disrupsi informasi.
Dideklarasikan pada 8 Februari 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, JMSI menegaskan kembali komitmennya untuk terus menghadirkan jurnalisme yang faktual, konstruktif, dan mencerahkan publik.
Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, mengingatkan bahwa enam tahun perjalanan organisasi ini tidak dilalui dalam situasi yang mudah. Dunia pers, menurutnya, sedang berada di titik nadir era disrupsi yang kerap mengacaukan ekosistem informasi.
Ia mengutip pandangan Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, yang menggambarkan disrupsi informasi layaknya banjir besar.
“Kalau sudah banjir, semua porak-poranda dan kacau-balau. Sulit menemukan air bersih. Namun, manusia akan tetap mencari air bersih,” ujar Teguh mengulang analogi tersebut dalam sambutannya pada Malam Anugerah JMSI Award di Serang, Banten, Minggu malam (8/2/2026).
Menjadi Solusi Kebangsaan
Menurut Teguh, kondisi tersebut justru memperkuat posisi pers profesional. Di tengah limpahan informasi provokatif dan sensasional, publik pada akhirnya akan mencari informasi yang jernih dan memberikan pencerahan.
“Masyarakat akan sampai pada titik jenuh terhadap informasi yang hanya memancing emosi. Pada akhirnya, mereka akan mencari informasi yang konstruktif dan produktif,” lanjutnya.
Teguh menjelaskan bahwa tema “Bikin Terang Indonesia” yang diusung JMSI bukan sekadar slogan. Tema ini telah diadopsi sejak Musyawarah Nasional (Munas) tahun lalu sebagai sikap organisasi dalam menghadapi pesimisme era digital. Alih-alih larut dalam kekhawatiran, JMSI memilih mengambil peran sebagai bagian dari solusi kebangsaan.
Apresiasi Tokoh ‘Golden’
Dalam rangka HUT ke-6 ini, JMSI memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata berbagai pihak di ruang publik. Proses kurasi dilakukan secara berlapis dengan melibatkan pengurus daerah untuk mengusulkan tokoh, wartawan, hingga media siber paling profesional di wilayah masing-masing.
JMSI menetapkan beberapa kategori penghargaan, di antaranya:
- Golden Media
- Golden Journalist
- Golden Social Media
- Golden Leader
Kategori Golden Leader menjadi sorotan utama. Teguh menjelaskan, penghargaan ini terinspirasi dari kebutuhan bangsa akan sosok pemimpin yang tidak sekadar menjabat, tetapi mampu mengeksekusi kebijakan dengan dampak nyata.
“Dengan ambisi besar membawa Indonesia ke level berikutnya, bangsa ini membutuhkan pemimpin berkelas golden. Pemimpin yang inspiratif dan mampu mengeksekusi,” tegas Teguh.
Menuju Indonesia Emas
Menutup sambutannya, Teguh menegaskan bahwa seluruh rangkaian HUT ke-6 JMSI diarahkan untuk memastikan pers tetap menjadi pilar penting menuju Indonesia Emas 2045. Ia bahkan berkelakar bahwa pencapaian Indonesia Emas bisa saja dipercepat.
“Kalau bisa (Indonesia Emas) tahun 2035, kenapa tidak?” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Enam tahun setelah dideklarasikan, JMSI kini memantapkan dirinya bukan sekadar organisasi media, melainkan bagian dari ekosistem kebangsaan yang berupaya menjaga kejernihan informasi di tengah arus disrupsi yang kian deras.
Editor : Redaksi

















