Jenderal yang dicintai Rakyatnya

Jenderal yang dicintai Rakyatnya

154 views
0
SHARE

MAMUJU, SUARA INDONESIA NEWS |Kepergian Mayjen (Purn) Salim S. Mengga (alias JSM) meninggalkan duka yang dalam bagi masyarakat Sulawesi Barat.

Ia tidak sekadar wafat sebagai seorang jenderal, tetapi sebagai tokoh yang dicintai dan dihormati.

Tangis dan doa mengiringi kepergiannya (baik di dunia nyata maupun medsos) , termasuk saya secara pribadi kerap tak sadar meneteskan air mata menyimak video2nya

Sebab yang berpulang bukan hanya seorang pemimpin, melainkan sosok yang hidup di hati rakyatnya.

Cinta dan hormat itu bukan hadir tanpa sebab. Setidaknya ada 3 hal, yang membuat beliau begitu dikenang.

Pertama, kejujuran. Beliau pernah katakan, apa sebenarnya yang membuat kita kaya? Gaji pokok Wagub saya 2,4 tunjangan 6 jutaan, dan biaya operasional sering habis bukan untuk kemewahan.

tetapi untuk membantu orang lain, ada yang datang karena urusan pendidikannya, kegiatan sosial, dan urusan kemanusiaan. Ya kita kasi mereka. Tegasnya

Suatu hari Pak Jenderal ditanya, kenapa terlalu keras, Puang?

Beliau menjawab tegas, ia hanya keras kepada orang yang menyalah gunakan kekuasaan. Tidak boleh ada cerita membawa proposal bantuan, mengatasnamakan pesantren atau yayasan, meminta tanda tangan 100 juta, tapi yang disalurkan hanya 50 juta. Jika itu saya temukan, tidak ada ampun baginya. Tegasnya

Ia percaya, kalau negara mau baik, perbaikilah akhlak pemimpinnya. Dan ia membuktikannya dengan hidup bersih dan sederhana.

Kedua, cinta pada kampung halaman. Sulawesi Barat adalah napas hidupnya. Ia ingin jadi pemimpin tak semata urusan kekuasaan, rela meninggalkan dunia militer hanya ingin melihat kampungnya maju.

Dari Mamasa sampai Pasangkayu, harapannya sama,lahir anak-anak muda yang cerdas dan berakhlak.

Bukan lagi karena siapa orang tuanya, tapi karena kemampuan dan moralnya SiAPAPUN dia. Seperti kata bijak, daerah tidak akan maju oleh nama besar, tapi oleh karakter manusianya.

Ketiga, kerendahan hati. Beliau tidak pernah memilah manusia. Bisa bersalaman dan berpelukan dengan siapa saja, tanpa melihat jabatan atau latar belakang (nelayan, petani, pedagang jalanan dan seterusnya) dan itu terlihat tulus bukan sekadar pencitraan.

Baginya, semua manusia sama, yang membedakan hanya nasib. Itulah sebabnya ia dekat dengan semua lapisan masyarakat.

Kini beliau telah pergi. Namun jejak kebaikan, keteladanan, dan ketulusannya tetap tinggal.

Selamat jalan, Jenderal. Engkau boleh wafat, tetapi cintamu pada Sulawesi Barat dan kasih rakyat kepadamu tak akan pernah hilang.

Teladan beliau  bukan sekadar dikenang, tapi sebagai cermin bagi kita. Jabatan selesai,keteladanan terus hidup. Doa terus mengalir untukmu jendral Selasa. 03 Februari 2026. (Mabroer.Iwn/Hmm)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY