Muhasabah di Balik Kemegahan Pakaian Kebesaran

Muhasabah di Balik Kemegahan Pakaian Kebesaran

210 views
0
SHARE

Opini Oleh: H. Makdoem Ibrahim (Ketum Lembaga dakwah darul As’adiyah Mamuju)

MAMUJU, SUARA INDONESIA NEWS | Di sudut sudut kota nan sejuk, tempat lantunan doa sering dipanjatkan dan sujud-sujud keikhlasan ditegakkan, tersimpan kisah pilu seorang penjual ikan kecil yang menggantungkan hidupnya pada rezeki harian. Dengan suara lirih dan mata yang berkaca, ia mencurahkan kesedihan tentang ikan dagangannya yang diambil secara berutang, namun hingga kini belum terbayarkan.

Bagi orang kecil, utang yang belum ditunaikan bukan sekadar persoalan transaksi, melainkan soal keberlangsungan hidup, nafkah keluarga, dan harapan esok hari. Setiap rupiah adalah amanah, setiap janji adalah tanggung jawab, dan setiap penundaan tanpa iktikad baik menjadi beban yang memberatkan langkah kehidupan.

Agama mengajarkan bahwa utang adalah perkara serius. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ruh seorang mukmin tergantung oleh utangnya hingga ia ditunaikan. Betapa beratnya perkara ini, terlebih jika utang tersebut menyebabkan kesulitan bagi orang lain yang lemah dan bergantung pada usaha kecilnya.

Miris nya, sang pedagang kecil sampai berucap, ” Kami anggap dengan pakaian yang di kenakannya mereka tidak akan mengutang lagi, padahal kehidupan kami jauh lebih susah dari mereka yang kadang bermobil. Sangat Ironi ”

Apalagi tempat penjualan yang dekat dengan Masjid.

Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat nilai keadilan, kejujuran, dan kepedulian sosial. Mereka yang melangkah ke masjid, mengenakan atribut jabatan dan amanah negara, sejatinya dipanggil untuk menjadi teladan dalam menunaikan hak-hak sesama, menjaga kepercayaan, dan tidak menunda kewajiban.

Kisah ini menjadi cermin bagi kita semua untuk bermuhasabah. Bahwa jabatan, seragam, dan kehormatan bukanlah perisai dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Justru semakin besar amanah, semakin besar pula kewajiban untuk berlaku adil dan berakhlak mulia.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk segera menunaikan hak orang lain, melapangkan rezeki mereka yang terzalimi, dan menjadikan setiap langkah pengabdian kita sebagai jalan keberkahan, bukan sebab kesedihan bagi sesama. Karena sejatinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat dan paling amanah dalam menjaga hak orang lain. Rabu 17/12/2025

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY