Pelayanan IGD RS UMC Astanajapura Dikeluhkan Keluarga Pasien

Pelayanan IGD RS UMC Astanajapura Dikeluhkan Keluarga Pasien

0
SHARE

SUARA INDONESIA NEWS, KABUPATEN CIREBON | Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Astanajapura Kabupaten Cirebon dikeluhkan keluarga pasien. Mereka menilai penanganan terhadap pasien kurang sigap dan terkesan mengabaikan kondisi darurat.

Keluhan tersebut disampaikan Yuyun Sri Wahyuni, anak dari pasien H. Wasra, yang mengaku kecewa atas pelayanan yang diterima saat membawa ayahnya ke IGD RS UMC pada Rabu malam.

Yuyun menuturkan, sejak pertama kali tiba di IGD, dirinya tidak mendapatkan sambutan ataupun respons cepat dari petugas medis. Ia bahkan harus terlebih dahulu menghampiri dokter untuk meminta agar ayahnya segera ditangani.

“Dari awal masuk sudah tidak enak, tidak ada sambutan. Saya yang mendatangi dokter dan meminta agar bapak saya diperiksa. Setelah itu baru ditangani dan dokter menyarankan untuk rawat inap,” ujarnya, Kamis (2/4-26)

Meski telah disarankan rawat inap, Yuyun mengaku proses penanganan justru berjalan lambat. Ia menyebut pihak rumah sakit hanya meminta keluarga menunggu ketersediaan kamar tanpa memberikan tindakan medis awal kepada pasien.

“Saya tidak mempermasalahkan kamar penuh, tapi seharusnya pasien ditangani dulu, misalnya dipasang infus atau diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit. Tapi selama itu tidak ada tindakan, hanya diminta menunggu kamar,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berlangsung cukup lama, yakni sejak sekitar pukul 18.00 WIB hingga mendekati waktu Isya. Namun hingga lebih dari satu jam menunggu, belum ada penanganan lanjutan yang diberikan.

Merasa tidak mendapatkan pelayanan yang layak, Yuyun mengaku sempat meluapkan kekecewaannya kepada dokter yang bertugas. Ia menilai tenaga medis tidak mengutamakan keselamatan pasien.

“Saya marah karena merasa bapak saya seperti diterlantarkan, tidak ada tindakan sedikit pun. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah rumah sakit,” katanya.

Yuyun kemudian membawa ayahnya ke RSUD Gunung Jati Cirebon. Di rumah sakit tersebut, ia mengaku pasien langsung mendapatkan penanganan medis dengan cepat.

“Alhamdulillah di RS Gunung Jati langsung ditangani tanpa harus menunggu lama,” tambahnya.

Ia juga menyebut, selama berada di IGD RS UMC, dirinya melihat adanya perbedaan perlakuan terhadap pasien lain. Hal itu semakin menambah kekecewaannya terhadap pelayanan rumah sakit tersebut.

Atas kejadian itu, Yuyun berharap pihak RS UMC Astanajapura dapat melakukan evaluasi terhadap kinerja tenaga medis, khususnya dokter yang bertugas saat itu.

“Harapan saya ke depan, pelayanan harus diperbaiki. Jangan sampai merugikan pasien, apalagi ini menyangkut nyawa,” tegasnya.

Sementara pihak RS UMC Astanajapura saat dikonfirmasi melalui Humas RS UMC Astanajapura, Toha, didampingi Kepala Perawat Yomen serta perawat Rita dan Naziah, menjelaskan bahwa pasien datang ke rumah sakit pada Rabu petang (1/4) sekitar pukul 18.09 WIB dengan kondisi keluhan mual, muntah, dan mencret. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien langsung menjalani pemeriksaan awal oleh perawat dan dokter guna menentukan tingkat keparahan serta langkah penanganan yang diperlukan.

Berdasarkan hasil anamnesis, kondisi pasien masuk dalam kategori gawat tidak darurat yang membutuhkan penanganan intensif, dan sempat dipertimbangkan untuk dirawat di ruang ICU.

Namun, pada saat bersamaan terdapat dua pasien dengan kondisi serupa sehingga membutuhkan prioritas penanganan yang ketat sesuai standar operasional prosedur (SOP).

“Sesuai SOP, sebelum dilakukan tindakan lanjutan pada pasien gawat darurat, harus dipastikan terlebih dahulu ketersediaan ruang perawatan. Saat itu, seluruh ruang rawat dalam kondisi penuh sehingga tim medis harus melakukan penyesuaian dan pergeseran pasien lain untuk membuka ruang baru, ” ujarnya.

Proses pencarian ruang perawatan tersebut memerlukan waktu. Meski secara prosedur kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk langsung dilakukan pemindahan, pihak keluarga pasien tetap meminta agar pasien segera mendapatkan ruang perawatan. Dalam kurun waktu sekitar 30 menit, pihak rumah sakit akhirnya berhasil menyiapkan ruang kelas III, dan pada pukul 19.25 WIB telah disampaikan kepada keluarga bahwa ruang sudah tersedia.

Namun demikian, di tengah proses tersebut, keluarga pasien merasa cemas dan tidak sabar, sehingga memutuskan untuk meminta pemindahan pasien ke rumah sakit lain. Padahal, berdasarkan penilaian medis, kondisi pasien saat itu masuk kategori gawat tidak darurat (kode kuning), di mana prioritas penanganan masih berada di bawah pasien dengan kondisi gawat darurat (kode merah) yang juga sedang ditangani pada waktu bersamaan.

Pihak rumah sakit menegaskan bahwa seluruh proses pelayanan telah dilakukan sesuai SOP, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan awal, hingga upaya penyediaan ruang perawatan. Penanganan awal terhadap pasien juga telah diberikan sambil menunggu ketersediaan ruang.

“Secara prosedur, pasien tetap mendapatkan penanganan awal. Namun memang, komunikasi antara petugas dengan keluarga pasien kemungkinan kurang optimal, sehingga menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.

RS UMC Astanajapura juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat sikap atau perilaku petugas yang dirasa kurang berkenan oleh keluarga pasien, baik pada tahap pendaftaran, pelayanan perawat, maupun dokter.

Kejadian tersebut, lanjut Toha, menjadi bahan evaluasi internal bagi pihak rumah sakit, khususnya dalam meningkatkan kualitas komunikasi kepada pasien dan keluarga agar tidak terjadi kepanikan, terutama pada kasus dengan kategori gawat tidak darurat yang umumnya masih memiliki rentang waktu penanganan hingga dua jam.

Ia menambahkan, meskipun keluhan nyeri pada pasien dapat berlangsung hingga 24 jam sebelum berdampak pada penurunan kesadaran, penanganan medis tetap harus dilakukan secara terukur dan sesuai prioritas kondisi pasien.

“Ke depan, kami akan memperbaiki komunikasi agar keluarga pasien dapat lebih memahami kondisi medis dan alur pelayanan, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan,” pungkasnya. (Bakar)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY