Oleh: H. Makdoem Ibrahim ( Muballigh Butiran debu)
MAMUJU, SUARA INDONESIA NEWS | Di tengah hamparan keindahan alam dan kekayaan budaya Sulawesi Barat, terselip sebuah realitas yang tak bisa diabaikan: masih terbatasnya akses layanan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Di saat kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara, tidak sedikit masyarakat yang harus menempuh perjalanan panjang, bahkan hingga ke luar provinsi, demi mendapatkan pelayanan medis yang layak.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan fasilitas, melainkan menyangkut harapan hidup, keselamatan, dan masa depan masyarakat. Bayangkan seorang ibu hamil dengan komplikasi yang harus dirujuk ke provinsi lain, atau pasien dengan penyakit kritis yang kehilangan waktu berharga karena keterlambatan penanganan. Setiap detik menjadi begitu berarti, namun sering kali terhambat oleh keterbatasan infrastruktur kesehatan.
Ibu kota provinsi sebagai pusat pemerintahan dan pelayanan publik seharusnya menjadi titik utama hadirnya rumah sakit rujukan yang representatif. Rumah sakit rujukan bukan hanya tempat berobat, tetapi simbol kehadiran negara dalam menjamin kesehatan rakyatnya. Di sanalah tersedia tenaga medis spesialis, peralatan modern, serta sistem pelayanan yang terintegrasi untuk menangani kasus-kasus kompleks.
Ketiadaan rumah sakit rujukan yang memadai di ibu kota Sulawesi Barat menciptakan kesenjangan pelayanan kesehatan. Masyarakat di daerah terpencil semakin rentan, sementara beban ekonomi keluarga meningkat akibat biaya transportasi dan akomodasi saat harus dirujuk ke luar daerah. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga persoalan keadilan sosial.
Lebih dari itu, pembangunan rumah sakit rujukan akan menjadi investasi jangka panjang bagi daerah. Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, kehadiran fasilitas ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Sudah saatnya pembangunan sektor kesehatan menjadi prioritas utama. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu bersinergi menghadirkan solusi konkret. Tidak cukup hanya dengan wacana—dibutuhkan komitmen nyata, perencanaan matang, dan keberanian untuk menjadikan kesehatan sebagai fondasi pembangunan.
Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari sejauh mana negara hadir melindungi dan merawat warganya. Dan di Sulawesi Barat, harapan itu kini bertumpu pada satu hal yang sangat mendasar: hadirnya rumah sakit rujukan yang layak, manusiawi, dan menjangkau semua.
Sebab setiap nyawa berharga, dan setiap warga berhak untuk hidup dengan sehat dan bermartabat. Sabtu 28/03/2026

















