KH Marsudi Syuhud Siap Kawal 7 Arahan Kiai Sepuh Lirboyo di Muktamar...

KH Marsudi Syuhud Siap Kawal 7 Arahan Kiai Sepuh Lirboyo di Muktamar ke-35 NU

0
SHARE

JOMBANG, SUARA INDONESIA NEWS |  Pondok Pesantren Lirboyo menjadi saksi lahirnya seruan moral dari para Kiai Sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menjelang pelaksaan Muktamar ke-35 NU. Tokoh senior NU sekaligus calon Ketua Umum PBNU, KH. Marsudi Syuhud, menyatakan kesiapannya untuk menjalankan sekaligus mengawal tujuh arahan tersebut.

Menurut Marsudi, seruan yang disampaikan para Masyayikh Lirboyo merupakan bentuk kegelisahan terhadap kondisi organisasi, sekaligus ikhtiar menjaga NU dan jam’iyyah dari persoalan moral yang dapat mengancam keberlangsungan organisasi.

Ia menilai pembenahan di tubuh NU harus segera dimulai, terutama memanfaatkan momentum Muktamar ke-35. Menurutnya, tidak ada alasan lagi untuk menunda langkah perbaikan.

“Tujuh arahan dari kiai sepuh ini harus dilaksanakan dalam Muktamar kali ini. Sebab jika tidak dimulai dari sekarang, mau kapan lagi? Kalau bukan kita yang melakukan, mau siapa lagi?” tegas KH. Marsudi Syuhud melalui keterangan resminya kepada media, Sabtu (29/8/2026).

Marsudi menambahkan, maklumat para Masyayikh Lirboyo mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap dinamika yang berkembang di lingkungan PBNU saat ini.

“Ini adalah bentuk kegelisahan para Masyayikh. Jangan biarkan para kiai sepuh menangis melihat kondisi PBNU selama ini. Semoga ini menjadi ‘senjata pusaka’ untuk menyelamatkan NU dan jam’iyyah-nya,” lanjutnya.

Marsudi juga menekankan bahwa tujuh poin seruan tersebut perlu menjadi pegangan seluruh muktamirin dalam menentukan arah NU ke depan:

  1. Hentikan Politisasi dan Transaksi Politik: Menolak segala bentuk manipulasi, rekayasa, dan politik uang dalam pelaksanaan Muktamar.
  2. Tolak Intervensi Eksternal: Menolak kepentingan dari luar yang berupaya memengaruhi atau menunggangi agenda Muktamar ke-35 NU.
  3. Kembali ke Khittah 1926: Mengembalikan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang independen.
  4. Utamakan Tradisi Musyawarah: Mengedepankan tradisi tabayyun, musyawarah mufakat, serta kebijaksanaan ulama sepuh ketimbang rivalitas politik praktis.
  5. Jaga Persatuan Jam’iyyah: Menghindari provokasi, perpecahan, serta pola dukung-mendukung yang berpotensi merusak ukhuwah Nahdliyin.
  6. Kepemimpinan Berintegritas: Memastikan kepemimpinan PBNU mendatang memiliki komitmen moral, akhlak, dan integritas yang teruji.
  7. Momentum Kebangkitan Moral: Menjadikan Muktamar sebagai ajang kebangkitan moral dan upaya menjaga marwah NU demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Bagi Marsudi, tujuh seruan tersebut bukan sekadar pesan menjelang Muktamar, melainkan sebuah amanat penting yang wajib diwujudkan dalam proses penentuan arah kepemimpinan dan masa depan NU. (GD)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY