PEKANBARU, SUARA INDONESIA NEWS | Keterbatasan air di musim kemarau yang selama bertahun-tahun membelenggu Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent Desa Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, kini teratasi.
Melalui kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pemerintah Desa, kelompok tani yang beranggotakan 14 perempuan ini berhasil mengoptimalkan lahan seluas empat hektare dengan teknologi irigasi modern.
Selama ini, KWT Multi Talent menghadapi kendala geografis yang berat. Sumber air baku berupa parit berada 75 meter dari kebun dengan elevasi sembilan meter lebih rendah. Untuk menyiram tanaman, para anggota harus mengangkut air secara manual menggunakan jerigen 20 liter dari rumah masing-masing dengan sepeda motor.
Proses satu jerigen saja memakan waktu hingga 30 menit. Untuk menyiram seluruh kebun, mereka butuh waktu hingga empat jam setiap hari. Kondisi itu membuat mereka enggan menanam komoditas bernilai tinggi seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong, dan hanya mengandalkan ubi-ubian yang tahan kering.
PHR hadir menjawab tantangan tersebut. Perusahaan memfasilitasi pemasangan pompa air bertenaga diesel untuk mengangkat air dari parit ke tandon berkapasitas 1.000 liter. Jika sebelumnya pengisian air memakan waktu berjam-jam, kini hanya 10 menit.
Selain itu, PHR memperkenalkan sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang mengalirkan air dan nutrisi secara presisi langsung ke akar tanaman, dilengkapi bantuan pupuk organik dan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga.
“Setelah ada bantuan dari PHR, banyak sekali perubahan nyata yang kami alami. Kami masih bisa menanam saat musim kemarau. Berbeda dari sebelumnya, bila kemarau kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada air,” ujar Ketua KWT Multi Talent, Ratna Siregar, Jumat (2/10/2026).
Dukungan infrastruktur diimbangi semangat swadaya kelompok. Sebelum instalasi dipasang, Ratna bersama anggota KWT bergotong royong dengan bantuan para suami membuat kolam penampungan di lahan kebun. Mereka juga disiplin mempelajari pengoperasian pompa, pengaturan pipa irigasi tetes, hingga menyusun jadwal piket harian.
Dampaknya signifikan. Durasi penyiraman terpangkas 50 persen, dari empat jam menjadi hanya dua jam per hari.
“Awalnya kami tidak paham dengan sistem pengairan yang diterapkan, namun ternyata sangat membantu. Tidak perlu repot lagi bolak-balik ambil air dari rumah. Ketakutan kekeringan tidak semengerikan dulu karena ada kepastian air,” kata Ratna.
Kepastian pasokan 1.000 liter air per hari memungkinkan kelompok memproduktifkan kembali sekitar setengah hektare lahan yang sebelumnya menganggur saat kemarau. Kini mereka berani beralih dari pola lama dan membudidayakan hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
Program ini menjadi wujud komitmen PHR dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi, tidak hanya melalui bantuan fisik, tetapi juga transfer teknologi dan keberlanjutan ekonomi petani lokal. (Mus)

















