HANGZHOU, TIONGKOK — SUARA INDONESIA NEWS | Dunia pendidikan semakin dekat dengan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Momentum tersebut turut dirasakan Nurmansyah, S.Pd., M.Sos., pendidik, penulis asal Aceh, yang mendapat kesempatan mengikuti kegiatan yang membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), cloud computing, Large Language Model (LLM), AI agents, dan berbagai teknologi digital lainnya. di Hangzhou International Expo Center, Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok.
Mengusung tema “Intelligence Goes Beyond”, teknologi tahunan Alibaba Cloud tersebut menghadirkan perkembangan terbaru AI, cloud computing, Large Language Model (LLM), AI agents, infrastruktur komputasi, serta penerapannya di berbagai sektor. Nurmansyah menilai forum internasional tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai arah perkembangan teknologi AI yang semakin terintegrasi dalam berbagai aktivitas manusia.
“Kesempatan mengikuti kegiatan internasional seperti Apsara memberikan pengalaman yang sangat berharga perjalanan sekitar 6 jam 45 menit dari Kuala Namu ke Hangzhou China , sekitar 5 jam 30 menit dari Singapore, .di sini kita dapat melihat bagaimana AI tidak hanya menjadi alat untuk menjawab pertanyaan, tetapi mulai diarahkan untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan secara lebih terstruktur dan otonom,” kata Nurmansyah saat dikonfirmasi dari Hangzhou Tiongkok, minggu (27/09/2026).
Salah satu teknologi yang menarik perhatiannya adalah Qwen dan platform AI Qwen. Dalam area event, Alibaba Cloud menampilkan kemampuan AI dalam berbagai modalitas, termasuk bahasa, suara, gambar, dan video, serta demonstrasi AI agents untuk mendukung pekerjaan seperti pembuatan konten, layanan pelanggan, pemrograman, pemasaran, dan aktivitas perkantoran.
Menurut Nurman, perkembangan tersebut membuka peluang bagi dunia pendidikan. Guru dan dosen dapat memanfaatkan AI untuk membantu pencarian informasi, penyusunan materi, pengembangan konten pembelajaran, pengolahan ide hingga pekerjaan administratif, dengan tetap menempatkan pendidik sebagai pengendali dan pengambil keputusan utama. “Guru dan dosen ke depan perlu memahami AI bukan sekadar sebagai alat bantu, tetapi sebagai teknologi yang harus digunakan secara bijak, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia mengatakan pengalaman mengikuti LLM 2026 tidak hanya menjadi perjalanan internasional, tetapi juga kesempatan memperluas wawasan dan jejaring sekaligus melihat langsung perkembangan teknologi yang berpotensi memengaruhi masa depan pendidikan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibagikan kepada rekan-rekan pendidik dan peserta didik di Indonesia, khususnya di Aceh.
“Saya bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Harapannya, pengalaman dari Hangzhou dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, dan generasi muda Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, memanfaatkan, dan mengembangkan AI untuk kepentingan pendidikan dan kemajuan masyarakat,” pungkas Nurman. (wan ccp)

















