Di Udara Merangkai Kebijakan untuk Tahfidz 30 Juz

Di Udara Merangkai Kebijakan untuk Tahfidz 30 Juz

0
SHARE

Oleh: H. Makdoem Ibrahim, S. Th. I., MA ( Ketua Ikakas Kab. Mamuju)

Buletin dakwah 29 Juli 2026 M/14 safar 1448 H.

MAMUJU TENGAH, SUARA INDONESIA NEWS| Ada kalanya sebuah gagasan besar lahir bukan di ruang rapat yang megah, bukan pula di balik meja kerja yang dipenuhi berkas. Ia justru muncul dari sebuah percakapan sederhana, di kursi pesawat, di antara hamparan awan yang membentang menuju Jakarta.

Hari ini, 29 Juli 2026, saya berkesempatan berbincang santai dengan Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Barat, Murdanil, SE., M.AP. Sosok yang saya kenal sebagai pemimpin dengan segudang ide kreatif dan kegelisahan yang sama: bagaimana menghadirkan kebijakan yang benar-benar menyentuh masa depan Sulawesi Barat.

Obrolan kami kemudian mengarah pada satu pertanyaan yang sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Bagaimana jika pemerintah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada putra-putri Sulawesi Barat yang berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz?

Pertanyaan itu terus terngiang di benak saya. Bukankah mereka adalah generasi yang memilih menjaga firman Allah di dalam dadanya? Mereka menghabiskan waktu ketika banyak orang mengejar hal-hal duniawi. Mereka berjuang dengan kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Lalu, muncul kalimat yang membuat suasana diskusi sejenak hening.

“Masa’ hamba Allah yang di dalam dadanya tersimpan Al-Qur’an tidak diberi posisi mulia di tengah-tengah masyarakat?”

Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah panggilan nurani.

Selama ini kita sering mengukur keberhasilan anak-anak kita dari gelar akademik, jabatan, atau profesi yang mereka raih. Semua itu tentu penting. Namun, jangan sampai kita lupa memberikan penghormatan kepada mereka yang memilih menjadi penjaga Kalamullah.

Membayangkan Sulawesi Barat memiliki kebijakan yang memuliakan para hafidz dan hafidzah 30 juz terasa begitu indah. Bukan semata-mata memberi penghargaan, tetapi menghadirkan pesan kepada seluruh generasi muda bahwa menghafal Al-Qur’an adalah jalan yang juga dihargai oleh daerahnya. Bahwa menjadi hafidz bukan hanya kemuliaan di sisi Allah, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat.

Saya percaya, kebijakan yang lahir dari hati akan lebih mudah menyentuh hati. Dan boleh jadi, dari percakapan sederhana di atas awan hari ini, akan lahir sebuah langkah besar yang kelak menginspirasi banyak anak Sulawesi Barat untuk mencintai Al-Qur’an.

Karena sesungguhnya, daerah yang maju bukan hanya daerah yang tinggi gedung-gedungnya, tetapi daerah yang memuliakan nilai, menghormati ilmu, dan menempatkan para penjaga Al-Qur’an pada kedudukan yang semestinya.

Semoga percakapan di atas langit hari ini menjadi awal dari ikhtiar besar membumikan Al-Qur’an di Tanah Malaqbi’. Sebab ketika para penghafal Al-Qur’an dimuliakan, sesungguhnya yang sedang dimuliakan adalah Kalam Allah itu sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY