TEGAL, SUARA INDONESIA NEWS | Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah, Hj. Nawal Nur Arafah, yang juga istri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menjadi satu-satunya narasumber Pelatihan Leadership Pengurus Organisasi Wanita se-Kota Tegal yang digelar Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Tegal di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tegal, Selasa (20/10).
Pelatihan Leadership tersebut juga dalam rangka memeriahkan Peringatan Hari Ibu ke-98 tahun 2026. Momentum ini menjadi panggung penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan secara masif. Kegiatan strategis ini diikuti sebanyak 120 peserta yang merupakan representasi dari 30 organisasi wanita di bawah naungan GOW Kota Tegal.
Acara ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Tegal, Wakil Wali Kota Tegal, jajaran pengurus Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah.
Ketua GOW Kota Tegal, Ny. Debby Firoeza Indiany, mengungkapkan bahwa pelatihan kepemimpinan ini dirancang khusus untuk mendongkrak kapasitas pengurus dalam mengelola dan menggerakkan roda organisasi.
Selain menjadi ruang pencerahan dan ajang berbagi pengalaman, pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman prinsip kepemimpinan efektif, mengasah keterampilan mengarahkan potensi anggota, memantapkan komunikasi dan kerja sama tim, hingga membakar semangat kekompakan antar pengurus.
“Pelatihan leadership ini mempunyai nilai yang sangat istimewa karena yang menjadi narasumber langsung dari Ketua BKOW Provinsi Jawa Tengah. Tidak semua kegiatan mendapat kesempatan emas seperti yang kita selenggarakan hari ini,” ujar Ny. Debby Firoeza Indiany dalam sambutannya.
Ia pun mengajak seluruh peserta untuk memaksimalkan interaksi serta menggali ilmu kepemimpinan dari pimpinan BKOW Jateng tersebut.
“Mari kita serap ilmunya agar kita mampu menggerakkan seluruh potensi organisasi untuk berkembang lebih baik, lebih bermanfaat, dan membawa kemaslahatan nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Sambutan Wali Kota Tegal yang dibacakan Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah menyebutkan, bahwa kepemimpinan atau leadership bukan sekadar tentang siapa yang memegang jabatan, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu memberikan teladan, menggerakkan orang lain, membangun kerja sama, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungannya. Seorang pemimpin yang baik harus mampu mendengarkan, mengambil keputusan secara bijaksana, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan.
“Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya. serap ilmu, pengalaman, dan praktik baik yang disampaikan oleh narasumber. Kegiatan ini jangan hanya sebagai ajang pertemuan, tetapi jadikanlah sebagai kesempatan untuk memperkuat kompetensi diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas pengabdian melalui organisasi,” pintanya.
Ia menuturkan, perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan. Perempuan bukan hanya berperan penting dalam keluarga, tetapi juga menjadi penggerak dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan berbagai bidang pembangunan lainnya. Karena itu, peningkatan kualitas kepemimpinan perempuan merupakan investasi penting bagi kemajuan masyarakat dan daerah.
Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Tegal memiliki posisi penting sebagai wadah pemersatu berbagai organisasi wanita. melalui wadah ini, potensi, pengalaman, dan gagasan dari berbagai organisasi dapat disinergikan untuk menghasilkan program yang lebih terarah dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di organisasi masing-masing.
“Jadilah pemimpin yang tidak hanya pandai merencanakan, tetapi juga mampu melaksanakan, mengevaluasi, dan memastikan bahwa setiap program memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh anggota maupun masyarakat luas,” pesannya.
Ketua BKOW Jawa Tengah, Hj. Nawal Nur Arafah, memberikan paparan mendalam mengenai hakikat kepemimpinan. Menurutnya, tantangan terberat seorang pemimpin bukanlah sekadar menyusun program kerja yang menumpuk, melainkan bagaimana mengelola hati dan menjaga rasa tawaduk (rendah hati).
“Tantangan justru yang terberat adalah bagaimana kita mengelola hati kita. Jiwa momong (mengayomi) itu sangat berat, jauh lebih berat daripada membuat program yang sangat banyak. Maka hal pertama yang harus digarap adalah pengelolaan hati ini,” tegas Hj. Nawal di hadapan ratusan peserta.
Lebih lanjut, Nawal menekankan pentingnya keikhlasan niat dan kerendahan hati ketika diberi amanah pimpinan. Seorang pemimpin idealnya tidak merasa paling besar, melainkan justru semakin membumi agar diberi kelancaran dalam menuntaskan visi organisasi.
Ia pun mencontohkan teladan kepemimpinan Nabi Musa AS saat berhadapan dengan Firaun. Kala itu, doa yang dipanjatkan Nabi Musa bukanlah meminta tambahan senjata atau melipatgandakan pasukan tempur, melainkan memohon kelapangan dada dan keluasan hati (Robbi shroh li sadri wayasirli amri).
“Bukan senjata yang banyak, bukan tentara yang hebat, tapi keluasan hati ini yang menjadi energi utama. Terkadang beban organisasi begitu banyak, namun terapi batin dan ikatan ketauhidan inilah yang menjadikan kita fokus bukan hanya mengembangkan program, tetapi juga menjaga ketautan hati dalam mengabdi,” pungkasnya. (Zaen)

















