JAKARTA, SUARA INDONESIA NEWS | Pada tahun 2016 lalu, konglomerat pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo (HT), pernah terlibat diskusi intensif dengan Syafrudin Budiman SIP, atau yang akrab disapa Gus Din, dalam beberapa kali pertemuan. Dalam salah satu momen bincang akrab tersebut, HT sempat berjanji akan berkunjung ke kediaman Gus Din di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur—sebuah wilayah yang berjarak lebih dari 1.200 kilometer dari Ibu Kota Jakarta.
Sebelum HT menepati janji kunjungan tersebut, Gus Din terlebih dahulu menyerahkan sebuah keris indah berpamor Jungjung Derajat kepada sang konglomerat. Keris itu diserahkan dalam sebuah momentum penting pada 4 September 2016, yang kebetulan bersamaan dengan bergulirnya aksi unjuk rasa ormas Islam terkait dugaan kasus penistaan agama di Jakarta.
Singkat cerita, HT akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di Sumenep pada bulan Desember 2016. Kedatangannya disambut meriah oleh lintas elemen masyarakat: mulai dari 1.000 massa di Gedung Korpri Kota Sumenep, 100 kepala desa, 1.500 nelayan di Bluto, hingga 2.000 ulama dan santri di wilayah Ganding, Sumenep.
Ada pemandangan istimewa di tengah obrolan di Gedung Korpri. Gus Din tampak berbincang lepas dan akrab seperti biasa dengan HT. Tanpa rasa canggung di hadapan seorang konglomerat, ia bahkan terlihat menunjukkan telunjuk tangannya seperti sedang memberikan arahan atau pandangan. Pertemuan tersebut memperlihatkan kekaguman dan rasa hormat yang timbal balik di antara keduanya.
Sebagai figur yang sama-sama terjun di dunia politik dan memiliki ketertarikan kuat pada ekonomi-politik (baik nasional maupun global), konglomerat nasional dan anak “Sakera Madura” ini diyakini berdiskusi hangat seputar arah masa depan bangsa, dunia bisnis, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kini, waktu terus berjalan. Hary Tanoesoedibjo tetap aktif menakhodai MNC Group yang menggurita di berbagai sektor usaha, mulai dari media, telekomunikasi, satelit, perbankan, hingga properti. Sementara itu, Gus Din kini mengemban amanah sebagai Ketua Umum DPP Perhimpunan UKM Indonesia, berkarier sebagai ekonom muda, serta menjabat sebagai Komisaris BUMN PT Jasa Marga Related Business (JMRB).
Melihat rekam jejaknya, keberanian Gus Din yang sejak usia muda—saat berumur 36 tahun pada 2016 lalu—sudah mampu membangun komunikasi setara dengan tokoh sekaliber HT, menandakan bahwa pria kelahiran 21 Mei 1980 ini merupakan pelaku usaha dan profesional yang diperhitungkan.
Rumah kediaman Gus Din di Sumenep pun tercatat pernah disinggahi oleh deretan tokoh besar nasional. Di antaranya adalah Khofifah Indar Parawansa (Ketua Umum PP Muslimat NU / Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024), Imam Addaruqutni (Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia/Majelis Tabligh PP Muhammadiyah), Hary Tanoesoedibjo (CEO MNC Group), Soekarwo (Mantan Gubernur Jawa Timur), hingga Ton Abdillah (Ketua Umum DPP IMM/Ketua Umum Angkatan Muda Dakwah Indonesia).
Di dunia usaha, jaringan Gus Din juga terbentang luas ke sejumlah konglomerat kakap asal Surabaya. Selain HT, ia dikenal dekat dengan Budi Santoso (PT Rutan/Agrindo), Soedomo Mergonoto (sosok di balik kesuksesan PT Kapal Api Global), mendiang Herman Halim (PT Bank Maspion), hingga Jos Soetomo yang dikenal sebagai pengusaha kayu terkemuka.
Tidak hanya di sektor bisnis dan politik praktis, figur Gus Din juga memiliki kedekatan historis dan komunikasi yang baik dengan tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU). Sebut saja almarhum KH Hasyim Muzadi, almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), almarhumah Lily Wahid, Khofifah Indar Parawansa, hingga Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Melalui filosofi “Si Telunjuk Tangan”, Gus Din membuktikan bahwa dirinya mampu merangkul berbagai kalangan secara luwes. Memasuki usia 46 tahun pada Mei 2026 ini, ia terus bergerak dan bertumbuh untuk mengabdi kepada bangsa dan negara melalui jalur bisnis, pengembangan UMKM, politik, serta dakwah. (GD)

















