Komitmen Tekan Stunting, ASN di Pemkab Indramayu Jadi Orang Tua Asuh Anak...

Komitmen Tekan Stunting, ASN di Pemkab Indramayu Jadi Orang Tua Asuh Anak Stunting

1,445 views
0
SHARE

Suara Indonesia News – Indramayu. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disduk-P3A) Kabupaten Indramayu Heka Sugoro menyatakan, Pemerintah Kabupaten Indramayu berkomitmen menekan laju stunting atau gagal tumbuh anak akibat kurangnya gizi dengan berbagai program kebijakan.

Hal ini disampaikan Kepala Disduk-P3A Kabupaten Indramayu Heka Sugoro bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu yang dipimpin Bupati Indramayu Nina Agustina memiliki program untuk menekan angka stunting. Salah satunya Gerakan Orang Tua Asuk Anak Stunting.

“Gerakan orang tua asuh anak stunting menjadi salah satu terobosan dan upaya penurunan stunting di Kabupaten Indramayu,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (1/5/2023).

Pemerintah Kabupaten Indramayu dengan sigap menindaklanjuti Surat Edaran BKKBN Nomor 560.a /HL.01.01/G2/2022 Tanggal 7 Juni 2022 Hal Permohonan Menggelorakan dan Menghimbau Mitra untuk menjadi Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS).

Hal ini dibuktikan dengan terobosan pemberian makanan tambahan bagi anak risiko stunting di Kabupaten Indramayu melalui Gerakan Orang Tua Asuh Anak stunting (OTAAS).

Menurutnya, program ini adalah gerakan aksi gotong royong dari mitra, yaitu perusahaan pemerintah, swasta, kelompok masyarakat, dan individu untuk mengentaskan stunting dalam bentuk pemberian bantuan dalam rangka menurunkan kasus anak stunting di Indonesia.

Hal tersebut segera ditindaklanjuti oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Indramayu (TPPS) yang di ketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu dengan bersama-sama anggota TPPS membahas teknis pemberiannya melalui Gerakan OTAAS Kabupaten Indramayu.

“Sebagai orang tua asuh adalah seluruh Aparatur Sipil Negara Gol II, III dan IV dengan sumber dana pribadi mereka dengan ikhlas dan tanpa paksaan membelikan dan memberikan secara berkala makanan tambahan berupa telur dan susu bagi anak beresiko stunting,” tambahnya.

Kegiatan OTAAS pun tidak semata memberikan makanan tambahan saja, namun disertai dengan pemantauan tumbuh kembang anak risiko stunting melalui pemantauan langsung oleh Kader Posyandu dan Tenaga Kesehatan Puskesmas setempat dengan datang ke rumah-rumah keluarga beresiko stunting secara berkala.

“Dengan adanya OTAAS ini memberikan banyak manfaat kepada keluarga berisiko stunting dengan memperoleh bantuan susu dan telur dengan harapan asupan protein dapat meningkat dan risiko stunting pun di Kabupaten Indramayu dapat menurun dan dicegah sedini mungkin,” ujarnya. (Toro)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY