ACEH UTARA, SUARA INDONESIA NEWS | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui dapur MBG di Cot Rheue menjadi sorotan. Sejumlah guru dan wali murid mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak memenuhi harapan serta tidak sejalan dengan tujuan program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik.(23/07/2026).
Keluhan tersebut mencuat setelah sejumlah wali murid mengunggah foto dan komentar di media sosial yang memperlihatkan menu makanan yang diterima siswa. Unggahan itu kemudian memicu berbagai tanggapan dari masyarakat yang mempertanyakan kualitas makanan yang disajikan.
Salah seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa menu yang disajikan kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) disebut-sebut sering berupa ikan tongkol dengan kondisi yang dinilai keras sehingga kurang layak dikonsumsi oleh anak-anak.
“Anak-anak sering mendapat ikan tongkol yang keras, Mie, kadang buahan juga tidak layak, banyak siswa tidak suka makan. Kami berharap menu yang diberikan lebih bervariasi dan benar-benar memperhatikan kebutuhan gizi siswa,” ujar sumber tersebut.
Menurutnya, keluhan serupa bukan hanya datang dari guru, tetapi juga dari para wali murid yang merasa kecewa karena kondisi tersebut disebut telah terjadi berulang kali.
Di media sosial, bahkan muncul berbagai sindiran dari warganet yang menyamakan porsi makanan tersebut dengan “nasi kucing”. Sebagian warganet mempertanyakan kualitas pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut, sementara yang lain meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan.
“Kalau memang kualitasnya seperti ini terus, lebih baik dievaluasi. Program yang bertujuan baik jangan sampai mengecewakan masyarakat,” tulis salah satu akun media sosial.
Sejumlah guru berharap pihak penyelenggara dapur MBG di Cot Rheue segera melakukan perbaikan terhadap kualitas menu, baik dari sisi variasi, mutu bahan makanan maupun kelayakan konsumsi bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Program MBG merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik. Karena itu, masyarakat berharap pelaksanaannya benar-benar sesuai dengan standar gizi, keamanan pangan, dan kualitas yang telah ditetapkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh para siswa.
Saat berupaya melakukan penelusuran, sejumlah warga menyebut dapur MBG tersebut diduga berkaitan dengan seseorang berinisial A. Namun, informasi itu belum dapat dipastikan kebenarannya.
Untuk memperoleh keseimbangan informasi, wartawan kemudian menghubungi sosok yang disebut warga tersebut. Kepada wartawan, yang bersangkutan yang identitasnya masih dirahasiakan membantah dugaan itu dan menegaskan bahwa dapur MBG di Cot Rheue bukan miliknya.”Itu bukan dapur saya,” ujarnya. (Wan ccp)

















