Anak Muda Flores Gelar Konser untuk Selamatkan Warisan Black Finit di Yogyakarta

Anak Muda Flores Gelar Konser untuk Selamatkan Warisan Black Finit di Yogyakarta

0
SHARE

Galeri Seni-Seni Banyak — tempat karya-karya lukis almarhum Albert Gerson Unfinit (Black Finit) tersimpan terancam tutup permanen karena ketiadaan dana sewa. Sekelompok mahasiswa asal Flores dari ISI Yogyakarta menggelar konser penggalangan dana sebagai upaya nyata menyelamatkannya.

YOGYAKARTA, SUARA INDONESIA NEWS | Sebuah galeri seni di Jalan Taman Siswa MG 2 No. 1274, Yogyakarta, menyimpan ratusan karya lukis warisan Albert Gerson Unfinit alias Black Finit  musisi reggae sekaligus pelukis otodidak asal Maumere, Flores, yang wafat pada 26 September 2020 di usia 37 tahun.

Kini galeri itu, Seni-Seni Banyak, terancam dikosongkan karena tidak ada dana untuk memperpanjang kontrak sewa bangunan. Untuk menjawab krisis ini, sekelompok mahasiswa asal Flores yang berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil langkah konkret: menggelar konser penggalangan dana.

Konser “Tuan Pesta – Nyanyian Seribu Bintang”

Pada 11 April 2026, mereka akan menggelar konser bertajuk Tuan Pesta – Nyanyian Seribu Bintang di Bukit Pangol Raya, Yogyakarta. Konser ini menghadirkan sejumlah musisi dari genre folk, indie, dan reggae, serta sesi live handpoke tattoo  sebuah malam yang merayakan seni dalam berbagai bentuk sekaligus menjadi seruan solidaritas untuk warisan Black Finit.

Seluruh hasil dari konser ini dialokasikan untuk memperpanjang sewa bangunan sekaligus renovasi Galeri Seni-Seni Banyak  agar  karya Black Finit yang masih tersimpan di dinding, kayu, dan kaca galeri itu tidak ikut hilang bersama gedungnya.

Informasi lengkap dan pembaruan acara dapat diikuti melalui Instagram @jam_pas_ dan @bukitpangoljogja.

Siapa Black Finit? 

Albert Gerson Unfinit lahir di Maumere, NTT, 11 Maret 1983. Tanpa latar keluarga seni, ia merantau ke Yogyakarta tahun 2002 dan belajar melukis secara otodidak di jalanan, terinspirasi Affandi dan Bob Marley. Karya musiknya mencakup EP “Kiri Kanan” (2011) dan album “Digiyo Digiye” (2015). Ia sempat berkolaborasi dengan Heruwa ‘Shaggydog’ dan seniman Angki Purbandono.

Gaya lukisnya  simbol primitif, figur ekspresif, warna kuat di atas dinding yang terlebih dahulu “dilukai” dengan paku atau pisau membuat para penikmat seni membandingkannya dengan Basquiat, Picasso, dan Miró. Pengakuan internasional datang dari Mella Jaarsma, seniman Belanda dan co-founder Cemeti Art House, yang mengunjungi Seni-Seni Banyak dan mendokumentasikan karya-karyanya.

Galeri yang Hampir Hilang, Bangkit, Kini Terancam Lagi

Semasa hidup, Black Finit menjadikan bangunan kontrakan di Jalan Taman Siswa sebagai studio, hunian, sekaligus kanvasnya  dinding, kayu, dan kaca seluruhnya menjadi medium berkarya. Tujuh bulan setelah kepergiannya, galeri dibuka untuk publik sebagai penghormatan anumerta (24 April 2021).

Pada 1 Juli 2025, galeri resmi ditutup. Namun pada 15 Maret 2026, sekelompok mahasiswa Flores dari ISI Yogyakarta masuk ke bangunan berdebu itu, membersihkan, menata arsip, dan merancang program kebangkitan. Satu hambatan nyata menghadang: tidak ada dana untuk membayar perpanjangan kontrak bangunan.

Jika Galeri Ini Bertahan

Dana konser akan memastikan galeri tetap hidup. Jika berhasil, program yang disiapkan antara lain:

  • Galeri terbuka untuk publik dan pengunjung internasional
  • Program kreatif mandiri: studio tato handpoke, kelas musik, kelas memasak, acara seni, Roots Garden Rooftop
  • Pengarsipan profesional seluruh warisan karya Black Finit
  • Ruang temu seniman-seniman dari Indonesia Timur di Yogyakarta
  • Program Grief Box bersama Yayasan Talk Mental: menghubungkan seni dengan pemulihan jiwa

Ada lukisan berjudul “Menutup Bab” yang sempat dibawa sebagai simbol perpisahan. Tapi selama ada anak muda Flores yang mau membersihkan galeri berdebu itu dengan tangan mereka sendiri  dan kini menggelar konser di bawah bintang demi mempertahankannya  bab ini belum selesai. (Rls)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY