Refleksi 17 Agustus 2026
Penulis: Safardy Bora
PALU, SUARA INDONESIA NEWS | Pagi ini Merah Putih berkibar di mana-mana. Di halaman kantor-kantor pemerintah, di sekolah, di gang-gang kampung, di depan rumah-rumah rakyat. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan dada tegak. Kita menyebut nama kemerdekaan dengan penuh kebanggaan.
Delapan puluh satu tahun sudah Indonesia merdeka.
Tetapi di sebuah jalan panjang dari Buol menuju Palu, ada seorang lelaki bernama HAMMA yang mungkin sedang bertanya kepada dirinya sendiri:
Benarkah aku sedang hidup di negeri yang telah merdeka?
HAMMA adalah lelaki asal Balanipa, Mandar. Ia lulus, kemudian ditempatkan untuk bertugas jauh dari tanah kelahirannya, di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Ia menjadi petugas penghulu—orang yang setiap hari berdiri di hadapan manusia yang hendak mengikat janji suci.
Ia membantu orang lain membangun keluarga.
Ia menyaksikan akad nikah.
Ia mengucapkan kalimat-kalimat yang mengantarkan dua manusia menuju kehidupan baru.
Namun pada suatu hari, ketika sedang melaksanakan tugas, tubuhnya sendiri tiba-tiba menyerah.
Jantungnya bermasalah.
Dalam keadaan seperti itu, seorang manusia tidak lagi memikirkan jabatan. Tidak lagi memikirkan pekerjaan. Yang ada hanya satu keinginan sederhana:
ingin tetap hidup.
HAMMA kemudian harus dirujuk.
Masalahnya, layanan spesialis jantung di daerah itu sangat terbatas. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, kebutuhan dokter spesialis jantung di Buol memang pernah diakui sebagai salah satu kekurangan tenaga medis spesialis.
Maka perjalanan pun dimulai.
Bukan perjalanan biasa.
Bukan perjalanan wisata.
Bukan perjalanan menuju sebuah pesta.
Melainkan perjalanan seorang manusia yang sedang mempertaruhkan sisa-sisa kekuatan jantungnya.
Achmad dibaringkan di dalam ambulans.
Di tangannya terpasang infus.
Di depan sana hanya ada sopir dan seorang bidan yang menemani.
Sementara HAMMA terbaring sendiri.
Di dalam ruang sempit ambulans itu, ia hanya ditemani suara mesin, bunyi roda yang bergesekan dengan jalan, tetesan infus, dan kecemasan yang mungkin tak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun.
Di belakang ambulans, seorang lelaki sedang menghitung bukan lagi kilometer.
Ia sedang menghitung denyut kehidupan.
Satu tikungan.
Satu tanjakan.
Satu kilometer.
Satu detik.
Dan mungkin dalam hati ia teringat wajah istrinya.
Wajah anak-anaknya.
Rumah yang jauh.
Tanah Balanipa yang ditinggalkannya.
Mungkin ia bertanya:
“Apakah aku masih sempat bertemu mereka?”
Buol dan Palu bukanlah dua tempat yang dapat ditempuh sebentar. Data pemerintah daerah menyebut jarak Buol ke Palu sekitar 582,4 kilometer, sementara sumber rute lain menunjukkan jarak jalan yang dapat mencapai sekitar 600 kilometer, dengan waktu tempuh darat berjam-jam tergantung jalur pantai barat atau pantai timur Pemerintah Kabupaten Buol sendiri menyebut rute menuju Palu dapat memerlukan sekitar 13- 15 jam melalui jalur tertentu tanpa istirahat.
Bayangkan itu..
Bagi orang sehat, perjalanan sepanjang itu mungkin hanya melelahkan.
Tetapi bagi orang yang jantungnya sedang bermasalah, setiap jam adalah pertanyaan.
Setiap menit adalah kecemasan.
Setiap detik adalah doa.
Dan di dalam ambulans itu, Achmad tidak sedang membawa koper.
Ia membawa nyawanya sendiri.
Hari ini kita memperingati kemerdekaan.
Kita akan mendengar pidato tentang pembangunan.
Kita akan berbicara tentang Indonesia maju.
Kita akan berbicara tentang kedaulatan, keadilan dan kemakmuran.
Tetapi kisah HAMMA membuat kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apa arti kemerdekaan bagi rakyat yang sakit, jika dokter yang dibutuhkannya berada ratusan kilometer jauhnya?
Apa arti kemerdekaan bagi seorang ayah yang harus meninggalkan istri dan anak-anaknya demi mengabdi di daerah?
Apa arti pemerataan pembangunan jika untuk mendapatkan dokter spesialis jantung, seorang pasien harus dibaringkan di ambulans dan dibawa menempuh perjalanan berjam-jam?
Ini bukan semata-mata kesalahan seorang dokter.
Bukan pula kesalahan seorang bidan.
Bukan kesalahan sopir ambulans.
Dan jangan pula kisah ini diarahkan untuk menyalahkan satu orang atau satu lembaga tanpa data yang lengkap.
Ini adalah pertanyaan besar tentang tanggung jawab negara.
Mengapa dokter spesialis belum merata?
Mengapa daerah terpencil masih harus bergantung kepada kota besar?
Mengapa seorang warga negara harus mempertaruhkan waktu dan nyawa hanya karena fasilitas kesehatan belum tersedia dekat dengan tempat ia mengabdi?
Pertanyaan itu seharusnya tidak dibungkam oleh kemeriahan 17 Agustus.
Justru harus didengar di tengah suara drum dan lagu perjuangan.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga semestinya berarti ketika seorang warga negara sakit, negara hadir sedekat mungkin dengan tubuhnya yang sedang berjuang.
Negara hadir melalui dokter. Negara hadir melalui rumah sakit. Negara hadir melalui ambulans yang layak. Negara hadir melalui sistem rujukan yang cepat. Negara hadir melalui kebijakan pemerataan tenaga kesehatan. Dan negara hadir sebelum keadaan menjadi terlambat.
RSUD Undata Palu sendiri telah dikembangkan sebagai salah satu pusat layanan rujukan jantung di Sulawesi Tengah, bahkan pada 2025 melaksanakan operasi jantung terbuka perdana.
Tetapi pertanyaannya tetap:
Mengapa pusat pertolongan itu harus begitu jauh dari seorang warga yang sedang sekarat di Buol?
HAMMA adalah satu nama. Tetapi mungkin ada banyak HAMMA lainnya. Guru yang ditempatkan jauh dari kampung halaman. Bidan yang mengabdi di pelosok. Petugas KUA yang meninggalkan keluarganya. Dokter yang bekerja dengan segala keterbatasan. Petani yang tinggal jauh dari rumah sakit. Nelayan yang hidup jauh dari pusat pelayanan. Mereka semua adalah wajah Indonesia. Mereka semua berhak atas kemerdekaan yang sama.
Karena itu, pada 17 Agustus 2026 ini, barangkali kita tidak perlu hanya bertanya:
“Sudah 81 tahun Indonesia merdeka?”
Tetapi bertanyalah lebih dalam:
“Sudah sejauh mana kemerdekaan itu sampai ke tubuh rakyat yang paling jauh dari pusat kekuasaan?”
Di atas tiang, Merah Putih berkibar.
Di dalam ambulans, HAMMA terbaring.
Bendera itu berkibar gagah di langit Indonesia.
Sementara seorang anak bangsa sedang berjuang agar jantungnya tetap berdetak.
Semoga perjalanan itu sampai.
Semoga dokter di Palu dapat menyelamatkannya.
Semoga istrinya kembali melihat suaminya.
Semoga anak-anaknya kembali memeluk ayahnya.
Dan semoga negara mendengar kisah ini bukan sebagai cerita tentang seorang HAMMA semata, tetapi sebagai teguran lembut bahwa kemerdekaan belum sempurna jika jarak antara rakyat dan pertolongan masih dapat diukur dengan ratusan kilometer.
Sebab sesungguhnya,
kemerdekaan bukan hanya ketika bendera dapat dikibarkan setinggi-tingginya.
Kemerdekaan adalah ketika rakyat yang sedang terbaring lemah tidak perlu bertanya:
“Apakah pertolongan masih akan tiba sebelum jantungku berhenti berdetak?”
Selamat memperingati 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dirgahayu Indonesia.
Semoga suatu hari nanti, tidak ada lagi Achmad yang harus menempuh perjalanan begitu jauh hanya untuk mencari seorang dokter yang mampu menyelamatkan jantungnya.

















