ROKAN HILIR, SUARA INDONESIA NEWS | Kelompok Budidaya Ikan Lele Sei Manasib di Rokan Hilir kini beralih dari ketergantungan pakan pabrik ke produksi pakan mandiri. Inovasi yang digerakkan Sekretaris BUMDES Muhammad Rizky itu berhasil menekan biaya produksi dan mendongkrak omzet kelompok hingga Rp32 juta dalam tiga bulan terakhir.
Sebelum perubahan, pembudidaya lele di Sei Manasib terjepit tingginya harga pakan dan harga jual ikan yang tidak menentu akibat permainan tengkulak. Margin keuntungan kelompok terus tergerus.
“Biaya operasional terus membengkak sementara keuntungan makin tipis. Kami sempat berada di titik lelah, bukan hanya fisik karena merawat ikan setiap hari, tapi juga mental karena kerja keras belum memberi hasil pasti,” kata Rizky, 31 tahun, Senin 20 Mei 2026 lalu.
Titik balik datang melalui Program Perikanan Riau PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Rizky dan anggota kelompok melakukan studi banding ke Desa Bangko Jaya untuk mempelajari produksi pakan mandiri dan akses pasar ke Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).
Dari sana, kelompok mulai memanfaatkan ikan rucah hasil tangkapan sampingan yang sebelumnya dianggap limbah sebagai bahan baku pakan alternatif.
Uji coba awal tidak mulus. Formulasi pakan yang dibuat gagal memadat sehingga pelet hancur saat ditebar dan mengganggu kualitas air.
“Mesin vertikal butuh presisi tinggi. Saya sempat salah mengatur putaran pisau sehingga pelet tidak padat sempurna,” kenang Rizky.
Setelah berulang kali menyesuaikan kadar kelembapan adonan dan kalibrasi mesin, kelompok akhirnya berhasil memproduksi pelet padat berkualitas. Biaya operasional turun signifikan tanpa mengurangi nilai gizi pakan.
Inovasi itu diikuti strategi pemasaran baru. Rizky menerapkan ilmu tata niaga untuk membuka jalur distribusi langsung ke Dapur SPPG dalam program Makan Bergizi Gratis.
Dalam satu siklus produksi, kelompok memanen 2,3 ton lele. Sebanyak 519 kilogram di antaranya terserap program pemerintah. Hasilnya, omzet tiga bulan terakhir mencapai Rp32 juta.
Manager CID Regional 1 PHR Iwan Ridwan Faizal menilai keberhasilan kelompok menunjukkan dampak nyata program pemberdayaan berbasis potensi lokal.
“PHR berkomitmen menghadirkan program yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, baik ekonomi, sosial, maupun penguatan kapasitas usaha lokal. Kemandirian masyarakat adalah fondasi pembangunan berkelanjutan,” ujar Iwan.
PHR juga mengajak masyarakat mendukung kelancaran operasional hulu migas demi menjaga ketahanan energi nasional.
Kini, bagi Rizky, kolam lele bukan sekadar sumber penghidupan. “Air di kolam boleh menyusut saat kemarau panjang, tapi tekad kami untuk mandiri tidak akan ikut mengering,” katanya.
PT Pertamina Hulu Rokan mengelola Wilayah Kerja Rokan seluas 6.200 km² di 7 kabupaten/kota Riau sejak 9 Agustus 2021. Wilayah ini menyumbang seperempat produksi minyak nasional. (Mus)

















