DURI, SUARA INDONESIA NEWS | Pagi itu, halaman Masjid Besar Arafah Mandau penuh sesak. Kamis (30/4/2026), bukan hanya koper dan tas yang dibawa. Ada 217 pasang mata berkaca-kaca, 217 pelukan erat yang enggan lepas, dan ribuan doa yang terbang bersama 217 calon jemaah haji Kloter 09 asal Bengkalis.
Salmiah (62), warga Bathin Solapan, tak henti mengusap air mata sambil menggenggam tangan anak bungsunya. “Sudah 15 tahun nabung, Mak. Akhirnya Allah panggil juga,” bisiknya lirih. Di seberangnya, Pak Darwis (70) dari Rupat Utara tersenyum menahan haru. Tongkat kayunya bergetar saat sang cucu mencium tangannya berkali-kali. “Doakan Atuk kuat ya, Cu. Atuk bawakan doa untuk kita semua.”
Satu per satu bus yang disiapkan Pemkab Bengkalis mulai terisi. Tak ada biaya yang dipungut. Tak ada jemaah yang kebingungan mencari makan atau tempat istirahat. Semua sudah diurus. “Biar jemaah fokus ibadah saja,” kata Camat Mandau Riki Rihardi saat melepas rombongan mewakili Bupati Kasmarni.
Dalam sambutan Bupati yang dibacakannya, terselip pesan yang bikin banyak jemaah menunduk: “Jaga kekompakan. Saling bantu. Kalian di sana bukan sendiri. Kalian bawa nama Bengkalis.”
Sebelum bus bergerak menuju Embarkasi Batam, Riki menitip satu hal lagi: “Doakan kampung kita. Doakan Bengkalis jadi negeri yang dirahmati, pemimpinnya amanah, rakyatnya sejahtera.”
Adzan belum berkumandang, tapi doa sudah menggema. Dari ibu yang melepas anaknya, dari anak yang melepas orang tuanya, dari suami yang melepas istrinya. Di antara lambaian tangan dan air mata, 217 cerita berangkat hari itu. Membawa rindu, membawa harap, menuju rumah yang paling dirindukan umat: Baitullah. (Mus)

















